Kota Blitar - Di sebuah sudut Kota Blitar, mimpi tentang kebaya tumbuh pelan-pelan, seperti benang halus yang dirajut dengan kesabaran. Berawal dari coretan gambar masa kanak-kanak, mimpi itu kini menjelma menjadi karya penuh detail dan rasa, berkilau lewat manik-manik menembus batas negeri. Sosok di baliknya adalah Renata Dianitasari, desainer kebaya muda asal Kelurahan Bendogerit yang membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian memulai bisa membuka jalan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Pilihan Renata untuk menekuni kebaya bukanlah keputusan instan. Sejak kecil, ia gemar menggambar busana dan tertantang pada detail-detail yang rumit. Baginya, kebaya adalah kanvas yang menuntut ketelitian, kesabaran, sekaligus kepekaan rasa. Ketertarikan itulah yang terus ia pelihara hingga menjadi identitas karyanya hari ini.
"Dari kecil memang sudah suka menggambar. Waktu kecil saat lihat animasi seperti di karakter sailor moon yang jadi fokus perhatian saya itu detail bajunya. Jadi sejak SD udah kepikiran mau ah nanti kerja gini aja desain dan gambar gambar baju. Terbawalah mimpi itu hingga akhirnya saya masuk di SMK 3 dan meneruskan ke perguruan tinggi di jurusan tata busana," ungkapnya.
Berangkat dari kecintaannya pada dunia desain, Renata menempuh pendidikan fashion di Institut Seni Indonesia Bali. Di sela-sela kuliah, ia sudah berani mencoba peruntungan dengan membuka galeri kecil di Denpasar. Meski pengalaman tersebut tak bertahan lama karena kendala biaya operasional, fase itu menjadi ruang belajar penting dalam perjalanan kreatifnya.
Selepas lulus, Renata memilih pulang ke kampung halaman di Kota Blitar. Keputusan itu tidak serta-merta diiringi keyakinan penuh. Ia sempat mengamati pasar, membaca peluang, dan menimbang risiko sebelum akhirnya memberanikan diri membuka rumah kebaya pada 2019. Perlahan namun pasti, respons positif mulai berdatangan. Pesanan demi pesanan mengalir, hingga usahanya berkembang tak hanya pada pembuatan, tetapi juga persewaan kebaya dan gaun.
"Waktu itu coba bangun butik di Bali disela-sela kuliah, lalu saya pikir pikir ternyata kok besar ya biaya operasionalnya. Akhirnya saya putuskan kembali ke Blitar, pelajari minat dan trend disini, wah kayaknya ada peluang nih untuk lanjutin buat rumah kebaya tepatnya di 2019. Sejak itu mengalir akhirnya pesanan ramai akhirnya merekrut lebih banyak tim untuk jahit, karena kayanya ga sanggup deh kalau semua dihandle sendiri," ujarnya.
Di rumah kebayanya, Renata membangun tim kerja yang solid dan terstruktur. Proses produksi dibagi sesuai keahlian, mulai dari penjahitan, bordir, hingga pemasangan detail. Kini, karya Renata tak hanya dikenakan warga Blitar dan sekitarnya, tetapi juga diminati dari berbagai daerah seperti Malang hingga luar Pulau Jawa. Bahkan, salah satu pencapaian yang membanggakan adalah ketika desain kebayanya dipesan hingga ke Kanada. Banyak pelanggannya berasal dari kalangan mahasiswa yang membutuhkan kebaya wisuda, hingga pasangan yang mempersiapkan hari istimewa pernikahan.
Tak berhenti pada produksi busana, Renata juga berbagi ilmu melalui Renata Fashion Design School (RFDS), sebuah ruang belajar bagi mereka yang ingin mendalami desain kebaya dan gaun. Lewat sekolah desain ini, ia berharap lahir lebih banyak talenta muda yang berani berkarya dan menjadikan hobi sebagai jalan masa depan.
Menutup perjalanannya, Renata menitipkan pesan sederhana namun kuat bagi anak muda. Mulailah dari apa yang kamu sukai, jangan menunggu segalanya sempurna. Menurutnya, keberanian untuk mencoba adalah langkah paling penting.
“Kalau memang itu hobi dan bikin kita semangat, jalanin dulu. Dari situ, pelan-pelan arah akan terbentuk sendiri,” tutupnya
Sebuah pesan yang menggema, menginspirasi, dan mengajak generasi muda untuk percaya pada proses. (pang)
Berita Populer
by Admin Kota | 13 Jun 2019
by Admin Kota | 10 May 2019
by Admin Kota | 15 Aug 2025
by Admin Kota | 22 Jun 2023
by Admin Kota | 04 Mar 2019
by Admin Kota | 11 Jan 2023